
GRIDUTA BANGKIT: Hangatnya pagi menyambut Murid
Pemandangan berbeda terlihat setiap pagi di SMPN 2 Tengaran. Petugas piket selalu siap menyambut murid setiap pagi pukul 06.30 WIB. Para guru dan tenaga kependidikan berdiri sigap di gerbang depan dan gerbang belakang sekolah. Dengan senyum sapa salam yang hangat, Bapak ibu guru dan tenaga kependidikan ini, memastikan bahwa setiap anak datang ke sekolah-Rumah Kedua-nya dengan perasaan aman dan bahagia. Inilah Piket Pagi Menyambut Siswa, budaya sekolah yang selalu menjadi bagian dari Gerakan Sekolah Ramah Anak GRIDUTA.
Petugas piket pagi adalah seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan SMPN 2 Tengaran yang terjadwal secara bergiliran. Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali Kelas, Guru Mapel, dan tenaga kependidikan ikut terlibat. Semua punya peran yang sama, yaitu menjadi orang tua kedua di sekolah. Kegiatan piket dilaksanakan setiap hari efektif belajar, mulai pukul 06.30 s.d. 07.00 WIB. Piket dibagi di dua titik utama untuk keamanan dan keteraturan, di Gerbang Depan menyambut mayoritas murid yang datang dari arah jalan raya. Gerbang Belakang untuk menyambut murid dari lingkungan sekitar sekolah. Tepat pukul 07.00 WIB, gerbang ditutup dan kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan pembiasaan dan pembelajaran.

Kegiatan ini bukan sekadar berdiri dan bersalaman. Para petugas piket melakukan Senyum, Salam, Sapa. “Selamat pagi, semangat belajar hari ini ya!”, begitu kira-kira sapaan hangat yang diucapkan kepada murid-murid sembari bersalaman. Suasana hangat begitu terasa, hubungan emosional antara guru dan murid benar-benar terbentuk secara natural. “Hati-hati, pelan-pelan, seragamnya dirapikan dulu, tali sepatunya dibetulkan…,” beberapa guru juga memberikan perhatian kepada murid untuk benar-benar siap belajar.
“Wah, keren kamu, datang ke sekolah pagi-pagi dan sudah rapi!”, sapaan-sapaan sederhana ini menjadi suntikan motivasi pertama bagi murid sebelum masuk kelas. Dalam hal ini guru secara tidak langsung memastikan kerapian seragam, kedisiplinan waktu, dan memantau kondisi psikologis murid. Jika ada murid yang terlihat murung, sakit, atau terlambat, guru piket langsung melakukan pendekatan persuasif. Budaya kecil yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan ini, ternyata membawa dampak besar. Murid akan merasa aman dan memiliki. Mereka merasakan bahwa kehadirannya di sekolah selalu ditunggu-tunggu oleh guru-guru yang ramah dan penuh kasih sayang. Hal ini juga menimbulkan rasa dihargai bagi murid-murid sehingga mereka akan selalu bersemangat untuk berangkat ke sekolah.
Karakter disiplin dan sopan santun berkembang dengan pembiasaan dan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun. Karakter ini tumbuh secara alami dari teladan guru dan semua warga sekolah. Piket pagi menyambut murid juga akan mencegah keterlambatan murid sampai di sekolah dan mengurangi potensi munculnya kenakalan. Kehadiran guru di gerbang membuat murid lebih tertib dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di luar sekolah. Melalui jabat tangan, sentuhan lembut penuh kasih sayang dapat mempererat hubungan guru, murid, dan seluruh warga sekolah. Orang tua yang mengantar merasa tenang karena anaknya disambut langsung oleh gurunya.
Kepala SMP Negeri 2 Tengaran menyampaikan, “Piket pagi ini adalah wujud komitmen kami. Kami ingin anak-anak merasa bahwa datang ke sekolah lebih awal dan tidak terlambat merupakan satu langkah menuju kesuksesan. Anak juga disambut dengan senyum ramah bapak ibu guru, sehingga mereka akan belajar dengan penuh semangat dan bahagia, dan semua itu dimulai sejak pagi hari.” Piket pagi GRIDUTA membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak harus selalu di dalam kelas. Cukup dimulai dari gerbang sekolah. Salam GRIDUTA Bangkit.